Ibnu Muqlah: Peletak Dasar Ilmu Kaligrafi Arab

Perpaduan antara kebenaran kaidah imlaiyah, kaidah khattiyah dan temperamen atau etika penggarapan yang terjaga adalah suatu keindahan tersendiri. Hal ini tentu bagi sang penulis kaligrafi akan mendapatkan kepuasan lebih. Oleh karena itu, perlu sekali membuka kembali rumus-rumus Ibnu Muqlah tentang dasar penulisan kaligrafi Islam pada awal-awal pertumbuhan dan perkembangannya.Ibnu Muqlah telah berhasil menyempurnakan suatu pekerjaan besar dan suci, yang tak seorang kaligrafer sebelum ataupun setelahnya sebanding dengan rintisannya, bahkan dalam hal ini dialah yang dikenal menduduki tempat tertinggi dalam literatur sejarah kaligrafi Islam.

Dapat dipastikan, sejak abad ke-9 M model tulisan cursif (model tulisan miring dan lentur) dipakai secara merata dimana-mana, dengan segala kekurang-elokannya, jika dibandingkan dengan Kufi yang sudah sempurna menurut ukuran waktu itu.Atas dasar tersebut, Ibnu Muqlah menempatkan dirinya pada tugas pendesainan tulisan cursif yang pada waktu bersamaan menjadi indah atau menjadi sebuah keseimbangan sempurna. Dengan demikian, secara efektif, tulisan cursif sanggup bersaing dengan tulisan Kufi yang cenderung angular dan kaku.

Menurut Ibnu Muqlah, bentuk tulisan baru dianggap benar jika memiliki lima kriteria sebagai berikut :

  1. Tawfiyah (Tepat), yaitu secara huruf harus mendapatkan usapan sesuai dengan bagiannya, dari lengkungan, kekejuran dan bengkokan
  2. Itman (Tuntas), yaitu setiap huruf harus diberi ukuran yang utuh, dari panjang, pendek, tipis dan tebal.
  3. Ikmal (Sempurna), yaitu setiap usapan garis harus sesuai dengan kecantikan bentuk yang wajar, dalam gaya tegak, terlentang, memutar dan melengkung.
  4. Isyba’ (Padat), yaitu setiap usapan garis harus mendapat sentuhan pas dari mata pena sehingga terbentuk suatu keserasian. Dengan demikian tidak akan terjadi ketimpangan, satu bagian tampak terlalu tipis atau terlalu tebal dari bagian lainnya, kecuali pada wilayah-wilayah sentuhan yang menghendaki demikian.
  5. Irsal (Lancar), yaitu menggoreskan kalam secara cepat-tepat, tidak tersandung atau tertahan sehingga menyusahkan, atau mogok di tengah-tengah sehingga menimbulkan getaran tangan yang kelanjutannya merusak tulisan yang sedang digoreskan.

Adapun mengenai tata letak yang baik (khusnul wad’i), menurut Ibnu Muqlah menghendaki perbaikan empat hal sebagai berikut :

  1. Tarsif (Rapat Teratur), yaitu tepatnya sambungan satu huruf dengan huruf lainnya.
  2. Ta’lif (Tersusun), yaitu menghimpun setiap huruf terpisah (tunggal) dengan lainnya dalam bentuk wajar namun indah.
  3. Tastir (Selaras, Serasi), yaitu menghubungkan suatu kata dengan lainnya sehingga membentuk garisan yang selaras letaknya bagaikan mistar (penggaris).
  4. Tansil (Bagaikan pedang atau lembing), yaitu meletakkan sapuan-sapuan garis memanjang yang indah pada huruf sambung.

Untuk menunjukkan ukuran bagaimana yang seharusnya dibentuk dalam suatu tulisan, Ibnu Muqlah meletakkan suatu sistem yang luas dan sempurna pada dasar kaidah penulisan kaligrafi. Diciptakannya sebuah titik belah ketupat sebagai unit ukuran. Kemudian mendesain kembali bentuk-bentuk ukuran (geometrikal) tulisan sambil menentukan model dan ukuran menurut besarnya dengan memakai titik belah ketupat, standar alif dan standar lingkaran. Tiga poin inilah, yaitu titik belah ketupat, alif vertikal, dan lingkaran yang dikemukakan oleh Ibnu Muqlah sebagai rumus-rumus dasar pengukuran bagi penulisan setiap huruf.

Untuk sistem ini, titik belah ketupat atau jajaran genjang dibentuk dengan menekan pena bergaris sudut-menyudut diatas kertas atau bahan tulisan lainnya. Dengan demikian, potongan, titik-titik mempunyai sisi sama panjang dan lebarnya, seluas mata pena yang digoreskan.

Standar alif digoreskan dalam bentuk vertikal, dengan ukuran sejumlah khusus titik belah ketupat yang ditemukan mulai dari ujung atas ke ujung lain di bawahnya dan sejumlah titik-titik tersebut pusparagam sesuai dengan bentuknya, dari lima sampai tujuh buah. Standar lingkaran memiliki radius atau jarak sama dengan alif. Kedua standar alif dan standar lingkaran tersebut digunakan juga sebagai dasar bentuk pengukuran atau geometri. Adalah di luar wilayah studi ini untuk menggambarkan keseluruhan sistem geometrikal dan matematika Ibnu Muqlah selanjutnya: selain untuk dikatakan bahwa keberhasilannya yang menakjubkan dalam peletakan dasar-dasar kaligrafi yang benar dan mendalam sesuai dengan rumus-rumus yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, mengikuti disiplin yang luar biasa ketatnya dan berhubungan dengan tiga unit standar, yaitu titik belah ketupat atau jajaran genjang, alif dan lingkaran.

Metode penulisan ini disebut al-Khat al-Mansub (Kaligrafi berstandar), dan ini menunjukkan pada pemakaiannya yang segera lemuas. Ibnu Muqlah bereputasi ke arah perintisan jalan pemakaian “enam besar” tulisan cursif yang disebutkan, seindah seperti tulisan lainnya.

Buah tangannya yang dipercaya masih ada sampai sekarang hanyalah yang tersimpan utuh di Museum Irak, Baghdad. Tulisan yang terdiri dari sembilan halaman ini, yang disebut Naskhi dan Tsulus, ditilik dari caya dan gaya penulisannya dianggap benar￾benar berasal dari tangan Ibnu Muqlah sendiri. Sumber lainnya menyebutkan bahwa di Andalusia ada sebuah mushaf al-Qur’an yang sangat masyhur, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khalil al-Saquny bahwa di salah satu masjid dari sekian banyak masjid Sevilla didapat mushaf juz IV edngan huruf-huruf tulisan yang mirip dengan huruf-huruf Kufi. Dikuatkan oleh Abu al-Hasan ibn Tufail bahwa mushaf itu ditulis dengan menggunakan khat Ibnu Muqlah. Sumber tersebut berasal dari Majalah Ma’had al-Makhtutat al-‘Arabiyah juz awal, halaman 95, tahun 1377 H, dalam suatu ulasan tentang perpustakaan dan kitab-kitab di Spanyol Islam.

Masih dari sumber yang sama, halaman 32 dalam judul al-Makhtutat al-‘Arabiyah fi Afganistan ulasan PSL de Beaurecueil mengenai berkas-berkas tulisan di empat perpustakaan, yaitu al-Mulk, Riasah al-Matbu’at, Wazarah al-Ma’arif al-Afganiyah dan Mathaf Herat, disebutkan bahwa dari sejumlah kitab-kitab langka di perpustakaan yang disebutkan terakhir ada sebuah mushaf yang ditulis oleh tangan Muhammad Ibnu Muqlah al-Wazir. Ia mengatakan”… Khat Kufinya,” Ibnu Muqlah meninggal tahun 328 H. Ibnu Khallikan menyebutkan, di sana ada seorang kaligrafer dengan panggilan al-Ahdab al-Muzawwar yang suka menulis (meniru) khat setiap kaligrafer, dan tidak diragukan lagi bahwa salah satu tulisan yang ditiru tersebut adalah khatnya Ibnu Muqlah. Orang itu meninggal tahun 370 H. Ibnu Muqlah lebih banyak menjuruskan penelitiannya pada tulisan-tulisan cursif.

Namun tidak mengherankan, seandainya sebagian mushaf yang beliau tulis itu menggunakan khat Kufi – jika memang penelitian terhadap kedua sumber terakhir tersebut bisa diuji kebenarannya – tidak berarti Ibnu Muqlah hanya menguasai tulisan cursif. Sebab kenyataannya tulisan yang sudah mapan pada waktu sebelum kreasi Ibnu Muqlah itu dikemukakan hanyalah tulisan Kufi. Dapat dipastikan bahwa sebelum itu Ibnu Muqlah menulis dengan khat Kufi, sebagaimana dilakukan oleh para kaligrafer lainnya, dan bahwa hampir seluruh kaligrafer menguasai setiap model tulisan yang berkembang pada masanya.

Teknik Dasar Belajar Kaligrafi

A. Hal Yang Disiapkan Sebelum Menulis

1. Ilmu Penunjang

Beberapa hal yang mempengaruhi gaya pemikiran dan bentuk kreativitas terkait dengan kaligrafi Arab antara lain kajian seputar al-Qur’an dan bahasa Arab serta cabang-cabang yang terkait dengannya.

2. Bakat

Banyak orang yang menganggap bahwa bakat merupakan satu-satunya jalan mulus untuk memperoleh sesuatu. Dalam kaligrafi, bakat hanya mempunyai peranan kecil dalam mempercepat belajar dan mendapatkan hasil. Sesungguhnya yang menentukan cepat atau lambannya belajar kaligrafi adalah latian yang kontinyu disertai kesabaran dan ketekunan.

3. Guru atau Buku Panduan

Guru yang memandu jalannya proses belajar hana mampu berperan dalam memberi motivasi, memberi teori dalam latihan, dan lainnya yang berhubungan dengan pengajaran atau latihan. Jadi pemandu yang profesional akan lebih bisa membantu dalam belajar dan mempercepat hasil yang baik.

4. Peralatan Tulis

Peralatan yang harus dipersiapkan sebelum memulai penulisan kaligrafi terdiri dari dua jenis, yaitu perakatan pokok dan peralatan pendukung. Peralatan pokok ada empat sebagaimana seorang penyair Arab melukiskan putaran perempat dalam senandungnya :

Seperempat tulisan ada pada hitam tintanya , Seperempat: indahnya kreasi sang penulis, Seperempat ada pada kalam/pena:Engkau serasikan potongannya. Dan pada kertas-kertas pada faktor keempat.Jadi ada empat faktor sekaligus penentu kualitas suatu karya yaitu: Pertama tinta yang jelas atau sejenisnya termasuk cat. Kedua kelihaian sang penulis yang dalam hal ini tangannya mahir menggerakkan pena. Ketiga adalah kalam atau pena yang terpotong rapi atau sejenisnya seperti kuas, bambu. Keempatadalah kertas yang bagus atau sejenisnya seprti kain kanvas, tripleks, tembok dll.Kertas yang merembes sangat menyulitkan goresan. Tingkat kemiringan pelatuk pulpen juga harus disesuaikan, karena setiap gaya khat idealnya ditulis oleh pulpen dengan tingkat kemiringan pelatuk yang berbeda-beda. Posisi umum pelatuk ketika berada dipermukaan kertas berkisar antara 60 s/d 90 . Adapun rinciannya : Khat Naskhi berkisar 75 s/d 85 , Khat Tsuluts berkisar antara 75 s/d 90 , Khat Riq’ah berkisar antara 60 s/d 65 , Khat Diwani berkisar antara 85 s/d 90 , Khat Diwani Jali berkisar antara 80 s/d 90 , dan Khat Farisi berkisar antara 75 s/d 85 . Khat Kufi tidak memakai sistem ini. Tidak hanya kertas dan pena, tinta juga harus dipilih yang bermutu, namun semuanya tetap berpulang kepada kecerdikan dan kepiawaian sang khattat.

5. Kondisi Psikologis

Kondisi psikologis juga mempengaruhi dalam proses belajar guna memperoleh hasil. Namun kondisi ini lebih banyak diketahui oleh penulis sendiri.

B. Mengolah Kalam/Pena

Pulpen atau dalam bahasa Arabnya Qalam merupakan suatu karakter tersendiri bagi penggunanya. Ada yang menyukai pulpen mahal, karena menyangkut gaya atau gengsi. Pulpen mewah bermerkWaterman misalnya, sempat mengisi saku orang-orang ternama dunia seperti Ratu Mary dari Kerajaan Belgia, Ratu Rumania, Kaisar Cina dan Presiden AS Bell Clinton. Ada juga pulpen mewah lain sepertiMontblanc Sailor atau Montegrappa model Solitaire Royal bertatahkan berlian dan emas yang harganya puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah melalui pesanan khusus. Pulpen apapun yang penting pelatuk atau mata penanya bagus dan potongannya rapi tetap bisa menghasilkan tulisan yang bagus, tidak mesti yang mewah seperti pulpen tersebut diatas.

Mata pena pulpen cair idelalnya digunakan untuk tulisan selebar 2-3 mm. Untuk ukuran lebih lebar, dapat digunakan kalam lain seperti tangkai bambu, ranting kayu, roan, handam, batang emas, batang enau atau aren. Sedangkan kapur tulis atau dobel pensil dapat digunakan untuk mendesain tulisan yang lebih lebar lagi dari ukuran kalam-kalam tersebut. Pada dasarnya kalam dapat dibuat dari apa saja yang memngkinkan. Asal banyak akal, benda sederhana seperti kayu dapur atau ranting di tempat sampah dapat dijadikan kalam. Spidol besar atau kecil yang mata penanya dipotong miring dan ditipiskan jga dapat dijadikan bahan kalam khat.Setelah menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan, kalam dapat diolah dengan tahap-tahap sebagai berikut :

  1. Ambillah sepotong ranting bambu atau sejenisnya yang lurus, kira-kira 20 cm sebesar jari telunjuk dan kelingking. Bisa juga spidol atau pena yang mata penanya belum dipotong.
    1. Ratakan ujung bambu atau spidol tersebut agar rapi. Kemudian rautlah perut kalam dari bagian salah satu sisi untuk sejenis bambu dan rautlah dari bagian samping kanan dan kiri untuk sejenis spidol dengan pisau tajam atau cutter
    1. Potonglah ujung mata penanya dalam bentuk moncong ke kanan atau miring dengan kemiringan 45 atau menurut kebutuhan.
    1. Agar tinta lebih banyak tersimpan dan supaya aliran tintanya lancar serta teratur, belahlah gigi kalam, persis seperti ujung kalam yang biasa digunakan. Dan dibuatkan lubang kecil pada muara aliran tinta tersebut di tengahnya persis.seperti mata pena pulpen cair.
    1. Agar rapi dan halus, gosoklah ujung mata pena dengan amplas. Hendaknya diperhatikan, bahwa pada dasarnya potongan ujung kalam tidak harus tajam tipis seperti pisau, tetapi dibikin agak tumpul dan rata menurut ukuran yang dianggap layak. Mata pena metal atau pulpen cair dapat dipotong miring langsung kemudian mata penanya dihaluskan dengan amplas besi atau digosok diatas tegel, keramik, atau kaca. Saat penghalusan, perut kalam harus berisi tinta untuk menguji coba tingkat kehalusan goresan
    1. Setelah proses tersebut selesai, barulah kalam siap untuk digunakan.Sedangkan peralatan pendukung dalam menulis kaligrafi untuk menambah kemudahan dan kelancaran adalah seperti pensil, penghapus, penggaris, tip-ex, cutter, kertas tissu dan kondisi ruangan yang baik.

C. Teknik Dasar Penulisan Kaligrafi

Setelah langkah awal sudah dipersiapkan dengan maksimal, seseorang yang ingin berlatih menulis kaligrafi harus mengetahui terlebih dahulu teknik dasar atau kiat-kiatnya. Walaupun kelihatannya berlatih kaligrafi adalah kegiatan plagiat atau meniru tulisan yang sudah ada sebelumnya, namun dengan tanpa mengetahui teknik dasarnya maka kenerhasilan akan sulit diperoleh atau kemungkinan suksesnya 20 %. Sedangkan dengan mengetahui teknik akan membuat kemungkinan sukses 80 %. Teknik dasar yang dimaksud disini adalah cara memegang pena. Memegang pena adalah syarat utama dalam mencapai kesuksesan menulis kaligrafi. Yang dimaksud memegang pena adalah meletakkan posisi mata pena diatas kertas. Hampir 100 % kegagalan dalam berlatih kaligrafi disebabkan kesalahan dalam meletakkan posisi mata pena diatas kertas dengan kemiringan yang hampir berbeda-beda dari tiap jenis khat. Tingkat kemiringan mata pena telah disinggung diatas.

Adapun kiat pendukung yang harus dilakukan untuk menunjang teknik dasar adalah :

i. Konsisten, artinya dalam memegang pena, posisi mata pena harus sesuai dengan jenisnya dan posisi tersebut harus tetap konsisten (tidak berubah) kecuali pada kondisi atau pada huruf-huruf tertentu.

ii. Kontinue, artinya kegiatan tulis-menulis ini harus dilakukan terus-menerus secara rutin agar tangannya tidak kaku. Hal ini harus dijaga terus, apalagi pada masa-masa awal yang masih labil, sebab hampir 50 % kegagalan seseorang meraih kesuksesan dalam berlatih kaligrafi dikarenakan inkontinue.

iii. Evaluasi, hal ini bisa dilakukan dengan menyetorkan hasil tulisan kepada guru atauteman yang dipandang mampu mengoreksi.Selain itu masih ada beberapa kiat yang terkait dengan Kemah Iran tangan dalam menggerakkan pena pada goresan yang benar dan hal ini dikenal dengan teknik pelemasan, yaitu :

1. Membuat garis lurus dengan menggunakan pulpen atau pensil yang arahnya dari atas ke bawah dan sebaliknya serta dari kanan ke kiri atau sebaliknya.

2. Membuat garis melengkung atau lingkaran dengan menggunakan pulpen yang arahnya sama dengan poin nomor 1.Menulis dengan pensil atau pulpen bentuk-bentuk hurufnya selanjutnya ditebalkan dengan spidol yang telah dipotong miring.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top