Permata Kaligrafi di rumah Dr. Ferry Juliantono (Wakil Ketua Umum Gerindra)

“Pelajarilah kaligrafi yang betul,
Wahai orang yang memiliki akal budi,
Karena kaligrafi itu tiada lain
Dari hiasan orang yang berbudi pekerti.
Jika engkau punya uang,
Maka kaligrafimu adalah hiasan.
Tapi jika kamu butuh uang,
Kaligrafimu, sebaik-baik sumber usaha.”
(Al-Hafizh Usman dari Turki Usmani)

Jasakaligrafi.com-Kata mutiara diatas begitu familiar bagi kalangan pencinta kaligrafi. Menyiratkan pesan bahwa kaligrafi memang seni dalam semua kelas, tidak membedakan kelompok, ia melintasi batas-batas status sosial, agama, suku, ras, adat kebiasaan dan negara bangsa. Dari wong cilik hingga orang kaya, pengusaha, pejabat, semua senang dengan hadirnya seni masterpiece yang satu ini. Karena sifat seni yang dipancarkan kaligrafi esensinya bersifat universal. Semua bisa mendapat manfaat dari hadirnya kaligrafi tergantung sudut pandang kebutuhan masing-masing.

Tak terkecuali dengan kegemaran para pesohor negeri ini terhadap kaligrafi. Salah satunya adalah Dr. Ferry Juliantono, seorang mantan aktivis pro demokrasi di era 1990 an yang kini menjadi tokoh penting. Beliau menjabat sebagai wakil ketua umum Partai Gerindra (wakilnya Bapak Prabowo Subianto) dan direktur sebuah perusahaan nasional yang bergerak di pertambangan batubara. Tak disangka, kami Tim IRFAN KALIGRAFI MASJID (www.irfankaligrafimasjid.wordpress.com) bisa kenal beliau dan diberi kepercayaan untuk membuat kaligrafi di musola rumahnya di daerah Ciputat Kota Tangerang Selatan. Kami kerjakan kaligrafinya kurang lebih selama 12 hari pada bulan Mei 2018.

Rumah beliau terlihat asri dan memiliki area yang cukup luas di dalam kompleks perumahan elit. Masuk ke rumahnya harus berhadapan dengan satpam jaga yang 24 jam selalu siaga menjaga keamanan di area rumah yang bergaya vintage ala Eropa modern minimalis yang didominasi oleh warna putih. Masuk halaman kita akan selalu disambut dengan kicauan burung kakak tua putih dalam sangkar yang cukup besar. Lalu memandangi setiap sudut dari halaman, kita akan menjumpai pavilium bergaya Eropa yang berlantai dua, tempat ini khusus untuk menerima tamu istimewa, kerabat, sekaligus sebagai tempat kerja dan perpustakaan pribadi. Samping pavilium langsung berdampingan dengan garasi mobil yang bisa ditempati beberapa unit mobil semisal Alphard, Land Cruiser, Yaris, Jeep dan sedan Mitsubishi. Ditengah halaman terdapat taman mini berupa pancuran air yang selalu mengeluarkan gemericik air. Berhadapan langsung dengan teras depan rumah utama, dimana rumah utama tersebut merupakan bangunan paling besar yang terdiri dari tiga lantai. Samping rumah utama di sebelah kanan menurun ke bawah akan kita temui kolam renang dan ruangan khusus fitness. Kemudian sebelah kiri rumah terdapat musholla kecil bergaya minimalis lengkap dengan perabotan, meja kursi di depan musola, kran tempat wudhu, toilet, wastafel, serta beberapa pepohonan rindang yang menambah suasana makin asri dan lebih tenang.

Di dalam musholla terdapat beberapa hiasan kaligrafi yang di pigura dan bisa dipindah-pindah. Nah, kerjaan kamilah yang mengisi dinding kosong dan atap plafon mushola dengan rupa seni kaligrafi dekoratif berbahan cat akrilik emulsion. Dengan bantuan scafolding, kami poles tempat itu dengan sapuan kuas yang menghasilkan aneka warna dekoratif dan corak ornamen, serta yang paling pokok adalah materi tulisan dari beberapa ayat al Qur’an yang dipilih sesuai tema musholla diantaranya ayat tentang shalat, dzikir, kalimat-kalimat tayyibah yang sarat dengan makna syiar agama Islam dan nilai-nilai ibadah. Kaligrafi dinding dibuat keliling ruangan dengan panjang lebih kurang 14 meter tinggi 50 cm. Desain kaligrafi didominasi oleh warna coklat dan merah hati, merah marum sesuai permintaan sang tuan rumah plus agar bisa sama dengan warna karpet yang berwarna merah hati. Hiasan ornamen dibuat dengan gaya tehzib ala Turki dengan perpaduan warna biru, hijau tosca, krem coklat dan putih. Dengan teknik awal dibuat pola desain pada kertas untuk menghasilkan corak hiasan ornamen yang sama dan simetris. Setelah kertas berisi rangkaian pola ornamen dipotong, lalu pola ditutulkan ke daerah bidang ornamen menggunakan spon gabus baru kemudian diperhalus dan dipertajam dengan kuas kecil berserabut lembut. Tangan juga perlu sering dilatih dan dibiasakan dengan memainkan kuas lembut agar tercipta hasil karya yang halus. Untuk kaligrafi menggunakan jenis khat Tsulus dengan warna kuning gading, bisa semakin menambah aura elegan bagi ruang musholla tersebut. Khusus untuk kuas menulis, bisa menggunakan jenis kuas yang serabutnya kaku, dengan dimodifikasi lebih tipis dan boleh juga dipotong miring seperti qolam bambu atau handam ketika kita menulis khat kaligrafi pada kertas.

Kemudian di atap plafon yang tengahnya terdapat ceruk ke atas sampai ketemu dome kubah mini juga dibuat kaligrafi bulat dengan tinggi 65 cm panjang keliling 3,70 meter mengikuti alur bulatan bibir dome tersebut, hanya memang karya tidak sampai full ke puncak, mengingat dome kubah yang terlalu kecil sehingga kalau dibuat karya, maka karya tidak akan maksimal dipandang karena terlalu sempit ditambah ada lampu gantung yang menghiasi dome tersebut. Warna yang dibuat juga tidak terlalu jauh dengan karya yang ada di dinding keliling, sehingga tercipta perpaduan karakter warna antara yang di dinding dengan di atap plafon tengah. Lalu di luar lingkaran bibir dome juga dibuat karya bulat mengikuti bulatan bibir dome tersebut dengan panjang keliling luar sekitar 6 meter dan lebar sekitar 40 cm. Khat yang dipakai untuk karya di plafon tengah ada dua yaitu khat Diwani untuk diluar lingkaran dengan background warna hijau tosca tua dengan materi tulisan Ayat Kursi (QS. al Baqarah ayat 255), lalu di ceruk leher dome ditulis QS. Al Fatihah dengan jenis khat Tsulus warna kuning gading dengan dasar warna merah hati hampir senada dengan dasar warna yang ada di kaligrafi dinding keliling.

Perpaduan antara kaligrafi di dinding keliling dengan kaligrafi di atap plafon tengah yang mengambil tema ala Turki sedikit campuran ornamen Nusantara, menambah kesan elegan dan estetik bagi ruangan musholla tersebut. Suasana jadi lebih indah dan berkarakter, dinding yang tadinya putih kosong berubah menjadi tampilan visual yang memiliki makna seni dan syiar. Unsur warna monokrom (pertemuan warna yang tidak kontras) dipilih agar suasana karya terkesan mewah dan tegas, tapi tetap teduh dan minimalis mengikuti karakter area bangunan yang ada di dalam kompleks rumah tersebut.

Harapannya kaligrafi yang dibuat bisa menjadi penyegaran dan keteduhan bagi siapa saja yang masuk di dalam musola tersebut untuk beribadah, berdzikir atau sekedar duduk santai sambil membaca al Qur’an, terutama bagi tuan rumahnya.

Itulah kaligrafi yang menjadi ikon tersendiri bagi identitas keislaman pada masa kini. Ia lahir seolah untuk memenuhi oase kegersangan jiwa manusia agar lebih semangat. Kompleksitas warna dan bentuk-bentuk anatomi huruf yang dihadirkan kaligrafi mampu merubah spirit jiwa dan mengilhami pengetahuan intuitif. Dari sini pula penting kiranya melihat 5 (lima) aspek yang terkandung dari kaligrafi, pertama al ahdaf al ilmiyah, selaras dengan nalar spriritual, ia memberi kita pengetahuan baru dalam memperdalam kefahaman, ambil contoh kita membaca al Qur’an yang tertulis dan terhimpun dalam satu mushaf, siapa yang menghadirkan mushaf itu sehingga bisa dibaca? Itu tiada lain adalah para penulis kaligrafi yang menguasai huruf Arab. Pengetahuan muncul dari situ untuk mudah dibaca, dihafal, dikaji makna dan tafsirnya untuk kemudian bisa diamalkan. Kedua, al ahdaf at Tarbiyah, memberi penekanan edukasi kepada siapa saja yang ingin memperdalam ilmu, karena tulisan ibarat buruan dan yang mengikatnya adalah tulisan. Kepada anak misalnya kita mengajari kaligrafi, agar tulisan si anak enak dibaca dan mudah dinilai gurunya ketika ujian. Ketiga, al ahdaf al amaliyah, kaligrafi menjadi ladang kita mencari pahala dan nilai syiar agama, menulis satu ayat saja misalnya secara amaliyah sudah syiar untuk menyampaikan risalah Tuhan kepada manusia yang lain, kalau diniatkan ikhlas membantu orang lain yang kesusahan maka tentu saja mendatangkan pahala kebaikan bagi penulisnya. Keempat, al ahdaf al fanniyah, kaligrafi kaya akan varian bentuk, gaya, komposisi, susunan yang semuanya menyatu dalam barisan tulisan yang indah dilihat dan dijadikan aksesori seni yang bernilai tinggi. Kelima, al ahdaf an nafiah, secara potensi jelas kaligrafi bisa menjadi alternatif usaha yang menggiurkan, karena sifatnya jasa seperti halnya insinyur, desainer, dokter, sehingga menumbuhkan semangat kreatifitas dan inovasi untuk meningkatkan taraf ekonomi bagi orang orang yang memerlukan.

Demikian catatan singkat kami, tentang permata kaligrafi di mushola kediaman Dr. Ferry Juliantono. Semoga bermanfaat dan menginspirasi…


Oleh : Irfan Ali Nasrudin, S.H.I.

Leave a Comment

Your email address will not be published.

Scroll to Top